Fenomena Quiet Quitting: Cara Halus Menolak Overwork Tanpa Kena SP
Kalau kamu pernah merasa kerja sudah nggak sebentar tapi beban makin nambah, atau sering dipaksa lembur tanpa kelar-kelar, kamu nggak sendirian. Belakangan ini, ada tren baru yang mulai viral https://www.luxdoggrooming.com/ di kalangan pekerja bernama quiet quitting. Apa sih sebenarnya quiet quitting itu, dan kenapa banyak orang menganggapnya sebagai cara halus menolak overwork tanpa harus kena surat peringatan (SP)? Yuk, kita bahas!
Apa Itu Quiet Quitting?
Quiet quitting bukan berarti kamu langsung resign atau keluar kerja, tapi lebih ke sikap menjaga batasan antara kerja dan kehidupan pribadi. Jadi, kamu tetap melakukan tugas utama yang memang jadi tanggung jawabmu, tapi kamu nggak mau ambil kerjaan ekstra yang bikin kamu kewalahan.
Ini semacam “menolak overwork dengan cara halus,” tanpa harus ngomong langsung “saya nggak mau kerja lebih” yang kadang bisa bikin masalah sama atasan. Dengan quiet quitting, kamu tetap profesional, tapi juga bisa menjaga kesehatan mental dan fisik.
Kenapa Quiet Quitting Jadi Tren?
Di era kerja hybrid dan work from home, batas antara pekerjaan dan waktu pribadi makin kabur. Banyak orang yang merasa harus selalu “on” dan siap sedia, bahkan di luar jam kerja. Akibatnya, burnout alias kelelahan mental jadi hal yang lumrah.
Daripada akhirnya stress parah atau resign mendadak, beberapa pekerja memilih quiet quitting sebagai solusi:
- Menjaga keseimbangan hidup: Nggak mau terus-terusan lembur dan korbankan waktu keluarga atau hobi.
- Menghindari beban kerja berlebihan: Batasin tugas sesuai job description supaya nggak kebanyakan kerja.
- Mengurangi stres tanpa konflik: Tetap kerjain tugas utama tanpa bikin atasan atau rekan kerja marah.
Cara Praktis Melakukan Quiet Quitting
Kalau kamu tertarik coba menerapkan quiet quitting, berikut beberapa tipsnya:
- Jaga batas waktu kerja. Matikan notifikasi kerja setelah jam kantor, dan jangan buka email pekerjaan di luar jam kerja.
- Fokus pada tugas utama. Kerjain apa yang memang jadi tanggung jawabmu tanpa mengambil tugas tambahan yang nggak wajib.
- Komunikasi dengan sopan. Kalau ada beban kerja ekstra, jelaskan dengan baik ke atasan kalau kamu sedang fokus menyelesaikan tugas utama dulu.
- Manfaatkan waktu istirahat. Jangan korbankan waktu makan atau istirahat demi kerja terus-menerus.
- Jaga kesehatan mental dan fisik. Sering-seringlah refresh pikiran dengan hobi atau olahraga ringan.
Risiko dan Perhatian
Walaupun quiet quitting terdengar positif, tetap ada risiko kalau kamu tidak hati-hati, seperti dianggap kurang loyal atau nggak mau berkembang. Jadi, penting buat tetap profesional dan komunikatif.
Kalau dilakukan dengan tepat, quiet quitting bisa jadi strategi cerdas untuk menolak overwork tanpa harus berkonflik atau kena SP.